Selama minggu ini, kita melihat peningkatan tekanan di pasar ekuitas global, dengan indeks-indeks utama AS mencatat penurunan signifikan. Ketidakpastian perdagangan dan kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan menjadi tema dominan, mendorong pergeseran alokasi investor. Value stocks melanjutkan dominasinya terhadap growth stocks, sementara emas memperkuat posisinya sebagai safe haven dengan proyeksi harga yang direvisi naik oleh Goldman Sachs.
Tiga Hal Penting Minggu Ini 🔑
Tekanan Pada Pasar Ekuitas Global 📉
Pasar saham utama AS mengalami minggu yang menantang, dengan Dow Jones turun 1,0%, S&P 500 turun 1,5%, dan Nasdaq mengalami penurunan terbesar sebesar 2,6%[1]. Meskipun pasar Eropa dan Asia menunjukkan ketahanan lebih baik dengan MSCI EAFE hanya turun 0,6%, tren ini mencerminkan kekhawatiran yang semakin meningkat tentang prospek pertumbuhan global[1]. Penurunan ini semakin mempertegas kinerja negatif tahun berjalan untuk indeks-indeks AS, dengan S&P 500 turun 5,1% dan Nasdaq turun tajam sebesar 10,3% YTD (Year-to-Date)[1].
Ketidakpastian Perdagangan Menjadi Fokus Utama 🌐
Ketidakpastian perdagangan telah menjadi tema dominan dalam narasi pasar dan perusahaan. Perusahaan besar seperti Nike dan FedEx secara eksplisit menyebutkan ketidakpastian perdagangan sebagai hambatan signifikan[2]. Kekhawatiran ini telah mendorong revisi ke bawah untuk perkiraan pertumbuhan ekonomi global, meskipun ekspektasi inflasi tetap tinggi[2]. Akibatnya, terjadi perpindahan modal terbesar dalam sebulan dari ekuitas AS yang pernah tercatat, dengan sebagian mengalir ke Jerman dan pasar Eropa yang lebih luas, sebagian ke Tiongkok, dan ada juga alokasi besar ke US Treasuries[2].
Value Terus Mengungguli Growth 📊
Rotasi dari growth ke value stocks berlanjut dengan kuat. Morningstar US Value Index naik 5,54% year-to-date, sementara Morningstar US Growth Index turun 3,81%[3]. Menurut analisis valuasi, rotasi ke value stocks masih memiliki ruang untuk berlanjut, baik secara absolut maupun relatif[3]. Pola ini kemungkinan akan semakin menguat seiring perlambatan ekonomi dan melambatnya pertumbuhan pendapatan saham growth.
Gambaran Besar Arah Pasar 🧭
Tren Ekuitas Global 🌍
Pasar ekuitas global menunjukkan tren divergen yang semakin jelas. Sementara indeks-indeks AS mengalami tekanan, dengan S&P 500 turun 5,1% YTD, pasar internasional menunjukkan ketahanan lebih baik dengan MSCI EAFE masih naik 9,2% YTD[1]. Divergensi ini mencerminkan pergeseran sentimen investor global, dengan arus keluar dari aset AS menuju pasar global lainnya[2]. Tren ini mungkin akan berlanjut karena valuasi pasar non-AS menjadi semakin menarik secara relatif.
Jalur Ekuitas AS 🇺🇸
Ekuitas AS menghadapi tekanan dari berbagai arah, termasuk kekhawatiran tentang pertumbuhan pendapatan perusahaan, ketidakpastian perdagangan, dan kemungkinan dampak tarif pada ekonomi[4]. Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 4,25%-4,5%, mereka masih mengisyaratkan kemungkinan penurunan suku bunga di tahun 2025[4]. Namun, sikap The Fed menunjukkan pergeseran ke arah yang lebih hawkish dibandingkan Desember, dengan lebih banyak pejabat mengantisipasi tidak ada perubahan suku bunga pada 2025[4].
Tren Eropa & Asia 🌏
Pasar Eropa dan Asia menunjukkan kinerja yang lebih baik secara relatif dibandingkan AS. Germany 40 (DAX) dan UK 100 (FTSE) menunjukkan tren bullish dalam fase impulsif, dengan RSI masing-masing 80 dan 62[5]. Sementara itu, aktivitas bisnis di Jepang mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam lima bulan, dengan PMI Komposit turun dari 52,0 ke 48,5 pada Maret[6]. Penurunan ini sebagian disebabkan oleh tekanan inflasi yang kuat yang menekan penjualan.
Emas & Logam Mulia ✨
Emas menunjukkan tren bullish yang kuat, dengan Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga emas akhir 2025 menjadi $3.300 per ons dari $3.100[7]. Kenaikan proyeksi ini didorong oleh arus masuk ETF yang lebih kuat dari perkiraan dan permintaan bank sentral yang berkelanjutan[7]. Bank-bank sentral besar Asia diperkirakan akan melanjutkan strategi pembelian emas yang kuat selama 3-6 tahun ke depan untuk memenuhi tujuan cadangan mereka[7]. Dari perspektif teknikal, emas juga menunjukkan fase impulsif dengan RSI 65[5].
Arah Pasar Kripto 🪙
Bitcoin berada dalam fase konsolidasi dengan support utama di level $86.500-$87.200 dan target potensial di $88.500-$91.000[8]. Sementara itu, Ethereum dianggap undervalued pada harga $2.068, dengan data futures menunjukkan bahwa trader institusional mengantisipasi potensi kenaikan ke $2.400, mewakili kenaikan 22%[9]. Namun, Ethereum telah tertinggal jauh dibandingkan Bitcoin, dengan penurunan 32% selama tiga tahun terakhir sementara Bitcoin naik lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama[9].
Prospek Pasar Indonesia 🇮🇩
Ekonomi Indonesia terus menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global, dengan pertumbuhan PDB yang diproyeksikan tetap kuat sekitar 5%[10]. Namun, terdapat kekhawatiran bahwa penguatan yield UST yang didorong oleh kebijakan moneter The Fed yang berhati-hati dapat terus melemahkan Rupiah, menyebabkan arus keluar asing yang persisten dari pasar obligasi dan ekuitas[10]. Selain itu, ekonomi Tiongkok yang lemah dapat menekan harga komoditas, menurunkan pendapatan petani dan memperburuk defisit kembar Indonesia[10].
Kinerja Mingguan Pasar 📈
Indeks Global 🌐
Sebagian besar indeks global mencatat kinerja negatif minggu ini. Dow Jones Industrial Average turun 1,0%, S&P 500 turun 1,5%, dan Nasdaq mengalami penurunan terbesar sebesar 2,6%[1]. MSCI EAFE menunjukkan ketahanan relatif dengan penurunan hanya 0,6%[1]. Dari sisi year-to-date, kontras semakin terlihat jelas dengan Nasdaq turun 10,3% dan S&P 500 turun 5,1%, sementara MSCI EAFE masih naik 9,2%[1].
Kinerja Sektor 🏭
Terjadi rotasi yang signifikan dari growth ke value stocks, yang tercermin dalam kinerja sektor. Value stocks terus mengungguli growth stocks dengan Morningstar US Value Index naik 5,54% YTD sementara Morningstar US Growth Index turun 3,81%[3]. Pola ini mencerminkan pergeseran preferensi investor menuju saham-saham dengan valuasi lebih menarik di tengah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Faktor Style 🎨
Selain rotasi value-growth, saham-saham small-cap juga menunjukkan peluang yang menarik. Menurut analisis valuasi, saham-saham small-cap tetap undervalued dibandingkan dengan pasar secara luas, baik secara absolut maupun relatif[3]. Kondisi ini menciptakan peluang potensial bagi investor yang mencari diversifikasi di luar saham-saham large-cap yang telah mendominasi reli pasar sebelumnya.
Aset Alternatif 🔄
Komoditas mengungguli kelas aset lain dalam 3 bulan terakhir, dengan emas naik didorong oleh pembelian bank sentral, dan tembaga naik 12% mencerminkan permintaan jangka panjang dari AI dan transisi hijau[11]. Minyak Brent mencatat kenaikan mingguan sebesar 1,3% menjadi $69,15 per barel, meskipun masih turun 3,6% YTD[1]. Sementara itu, obligasi menunjukkan stabilitas dengan iShares Core U.S. Aggregate Bond ETF tidak berubah minggu ini dan naik 1,9% YTD[1].
Korelasi Aset Utama 🔄
Analisis Hubungan 🔗
Korelasi antar aset dan pasar menunjukkan perubahan signifikan. Korelasi ekuitas negara berkurang, dengan korelasi Russell 1000 vs EM Equity mendekati nol selama 1 tahun, dan ekuitas AS juga semakin kurang berkorelasi dengan DM lainnya[11]. Perubahan korelasi ini menciptakan lingkungan di mana diversifikasi menjadi semakin berharga, tetapi juga memerlukan pendekatan yang lebih terfokus terhadap alokasi aset.
Pergeseran Korelasi 📊
Pergeseran dalam korelasi tradisional mencerminkan jalur ekonomi yang berbeda dan ketidakpastian kebijakan. Yield riil AS yang lebih tinggi di atas 1% secara historis telah mendukung ekuitas non-AS, dan dengan yield riil mendekati 2%, All-World ex-US dan terutama ekuitas EM berpotensi mendapat manfaat dari lingkungan suku bunga riil AS saat ini[11]. Kondisi ini semakin memperkuat narasi untuk diversifikasi geografis dalam alokasi portofolio.
Divergensi ↔️
Terdapat divergensi yang semakin lebar antara kinerja value dan growth stocks, yang mencerminkan perubahan fundamental dalam ekspektasi investor terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perusahaan. Divergensi ini mungkin mengindikasikan rotasi pasar yang lebih dalam, dari saham-saham dengan valuasi tinggi ke saham-saham dengan valuasi lebih menarik, seiring perlambatan ekonomi dan normalisasi suku bunga.
Analisis Makroekonomi 🏛️
Indikator Pertumbuhan 📏
Perkiraan pertumbuhan PDB di ekonomi utama dunia mengalami revisi ke bawah, mengindikasikan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global[2]. Namun, terdapat variasi regional yang signifikan, dengan Indonesia diproyeksikan mempertahankan pertumbuhan PDB yang tangguh sekitar 5% dibandingkan dengan ekonomi lain yang mungkin mengalami perlambatan ekonomi lebih besar[10]. Perusahaan besar mulai secara eksplisit menyebutkan ketidakpastian perdagangan sebagai hambatan, yang dapat menjadi sinyal awal dari perlambatan aktivitas bisnis yang lebih luas.
Gambaran Inflasi 💰
Meskipun perkiraan pertumbuhan ekonomi menurun, ekspektasi inflasi tetap tinggi[2]. Situasi ini menciptakan dilema kebijakan bagi bank sentral global yang berusaha menyeimbangkan antara pengendalian inflasi dan dukungan pertumbuhan ekonomi. Tekanan inflasi yang kuat di Jepang telah menekan penjualan dan membuat beberapa pelanggan ragu untuk berkomitmen pada pesanan[6], menunjukkan bahwa inflasi terus menjadi tantangan global.
Pasar Tenaga Kerja 👥
Data ketenagakerjaan terbaru dari Inggris sesuai dengan ekspektasi[2], menunjukkan pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Minggu depan, laporan nonfarm payrolls AS akan menjadi indikator penting untuk diperhatikan[1], yang akan memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi pasar tenaga kerja AS dan implikasinya untuk kebijakan Fed.
Indikator Utama 📈
Aktivitas bisnis di Jepang menurun untuk pertama kalinya dalam lima bulan, dengan PMI Komposit turun dari 52,0 menjadi 48,5 pada Maret[6]. Penurunan ini sebagian disebabkan oleh jatuhnya aktivitas sektor jasa dan output manufaktur yang menurun dengan laju tercepat dalam setahun[6]. Data PMI dari zona Euro minggu depan perlu dipantau untuk melihat apakah pola serupa muncul di Eropa.
Bank Sentral & Kebijakan 💰
Perkembangan The Fed 🏦
The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 4,25%-4,5%, di mana telah berada sejak Desember[4]. Meskipun tidak ada perubahan suku bunga saat ini, The Fed masih mengisyaratkan kemungkinan penurunan suku bunga di tahun 2025[4]. Namun, terdapat pergeseran ke arah yang lebih hawkish dibandingkan Desember, dengan empat anggota sekarang mengantisipasi tidak ada perubahan suku bunga pada 2025, dibandingkan dengan hanya satu pada pertemuan terakhir[4].
Bank Sentral Global 🌍
Bank-bank sentral besar Asia diperkirakan akan melanjutkan strategi pembelian emas yang kuat selama 3-6 tahun ke depan untuk memenuhi tujuan cadangan mereka[7]. Goldman Sachs telah menyesuaikan asumsi permintaan bank sentral, meningkatkannya menjadi 70 ton per bulan dari 50 ton sebelumnya, mengingat ketidakpastian yang meningkat dalam kebijakan AS dan ekspektasi bahwa Tiongkok akan mempertahankan laju pembelian yang tinggi untuk beberapa tahun ke depan[7].
Kondisi Moneter 💵
Selain keputusan suku bunga, The Fed juga mengumumkan pengurangan lebih lanjut dalam inisiatif “quantitative tightening”, yang melibatkan pengurangan secara bertahap obligasi pada neraca[4]. The Fed sekarang akan mengizinkan hanya $5 miliar hasil dari jatuh tempo untuk roll off setiap bulan, turun dari $25 miliar[4]. Ini menunjukkan pelonggaran bertahap dari kondisi moneter yang ketat.
Kebijakan Fiskal 📋
Data pinjaman pemerintah Inggris menunjukkan peningkatan di atas ekspektasi, yang tidak menunjukkan tanda-tanda baik untuk Pernyataan Musim Semi mendatang dan perselisihan pemerintah yang sedang berkembang tentang apakah mereka harus terus berupaya menaikkan pajak atau mengurangi pengeluaran pemerintah[2]. Keputusan kebijakan fiskal di berbagai negara akan menjadi faktor penting untuk diperhatikan dalam beberapa bulan ke depan.
Mata Uang & Pendapatan Tetap 💱
Tren Dolar 💵
Sentimen pasar menunjukkan perpindahan modal dari AS ke seluruh dunia[2], yang dapat menekan nilai dolar dalam jangka menengah. Survei yang mendokumentasikan niat alokasi modal dari manajer aset terbesar dunia mencatat alokasi terbesar dalam sebulan dari ekuitas AS yang pernah tercatat[2]. Tren ini dapat berlanjut seiring investor mencari diversifikasi dan nilai relatif di luar pasar AS.
Pasangan Mata Uang Utama 🔄
EUR/USD (1,0486) dan GBP/USD (1,2595) berada dalam fase konsolidasi dengan RSI masing-masing 60 dan 62, sementara USD/JPY (151,63) menunjukkan tren bearish dalam fase impulsif dengan RSI 37[5]. Pasangan mata uang ini mencerminkan dinamika kebijakan moneter yang berbeda antara bank sentral utama dan pergeseran arus modal global.
Mata Uang Negara Berkembang 🌏
Rupiah Indonesia berpotensi melemah akibat penguatan yield UST[10]. Selain itu, potensi depresiasi Yuan untuk menstimulasi ekspor Tiongkok di tengah perang dagang Trump kemungkinan akan menekan mata uang regional lainnya termasuk Rupiah, mengakibatkan investor keluar dari JCI[10]. Dinamika ini menunjukkan kerentanan mata uang negara berkembang terhadap kebijakan ekonomi negara maju dan ketegangan perdagangan global.
Sinyal Pasar Obligasi 📜
Yield Treasury 10-tahun tetap stabil pada 4,25%, tidak berubah selama seminggu terakhir[1]. Ekonom Goldman Sachs memproyeksikan dua penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada 2025, bersama dengan penurunan lain pada paruh pertama 2026, yang mendukung prospek mereka untuk arus masuk ETF emas[7]. Stabilitas yield obligasi di tengah volatilitas ekuitas dapat menjadi indikasi bahwa pasar obligasi melihat risiko pertumbuhan lebih besar daripada risiko inflasi.
Komoditas & Aset Alternatif 🪙
Analisis Emas ✨
Emas menunjukkan tren bullish yang kuat, dengan Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga emas akhir 2025 menjadi $3.300 per ons dari $3.100[7]. Kenaikan proyeksi ini didorong oleh arus masuk ETF yang lebih kuat dari perkiraan dan permintaan bank sentral yang berkelanjutan[7]. Goldman Sachs mengidentifikasi dua risiko kenaikan signifikan untuk ETF: potensi resesi yang mengarah pada siklus pelonggaran Fed yang dapat meningkatkan harga emas menjadi $3.410 per ons pada akhir 2025, dan lonjakan minat investor pada emas sebagai tindakan perlindungan yang dapat mendorong kepemilikan ETF kembali ke level yang terlihat selama pandemi[7].
Pasar Energi ⚡
Harga minyak naik 1,3% minggu ini menjadi $69,15 per barel, tetapi masih turun 3,6% YTD[1]. Secara teknikal, Brent Crude berada dalam fase konsolidasi netral dengan RSI 44[5], menunjukkan keseimbangan antara kekuatan pembeli dan penjual saat ini. Dinamika permintaan dan penawaran energi tetap dipengaruhi oleh prospek pertumbuhan ekonomi global dan ketegangan geopolitik.
Logam Dasar 🧪
Tembaga naik 12% didorong oleh permintaan jangka panjang dari AI dan transisi hijau[11]. Pergerakan ini mencerminkan tema struktural yang mendukung permintaan logam industri, meskipun ada kekhawatiran jangka pendek tentang perlambatan ekonomi. Logam industri sering menjadi barometer aktivitas ekonomi, menjadikan kenaikan harga tembaga sebagai sinyal positif di tengah kekhawatiran tentang pertumbuhan.
Pasar Agrikultur 🌾
Ekonomi Tiongkok yang lemah dapat menekan harga komoditas secara keseluruhan, termasuk komoditas pertanian[10]. Hal ini dapat menurunkan pendapatan petani, yang merupakan perhatian khusus untuk negara-negara produsen komoditas seperti Indonesia. Perkembangan di pasar agrikultur perlu dipantau terutama oleh investor yang memiliki eksposur ke negara-negara pengekspor komoditas.
Arus ETF Komoditas 📊
Bank sentral di Tiongkok, Turki, Hungaria, dan Polandia meningkatkan cadangan emas, menunjukkan kekhawatiran tentang de-dolarisasi dan geopolitik[11]. Pembelian emas oleh bank sentral ini telah menjadi pendorong utama kenaikan harga emas dan diperkirakan akan berlanjut selama beberapa tahun ke depan[7]. Tren ini mencerminkan pergeseran strategis dalam pengelolaan cadangan global yang dapat memiliki implikasi jangka panjang untuk pasar emas dan mata uang.
Lanskap Cryptocurrency 🪙
Tren Bitcoin 📈
Bitcoin bertahan pada kisaran konsolidasi dengan support utama di level $86.500-$87.200 dan target potensial di $88.500-$91.000[8]. Harga Bitcoin telah naik secara signifikan dibandingkan tiga tahun lalu, saat ini berada pada $82.244, lebih dari dua kali lipat nilainya selama periode tersebut[9]. Kinerja kuat Bitcoin ini menunjukkan adopsi yang terus berlanjut dan pengakuan yang lebih luas sebagai kelas aset.
Pasar Altcoin 🔄
Ethereum dipandang undervalued pada harga $2.068, dengan data futures menunjukkan bahwa trader institusional mengantisipasi potensi kenaikan ke $2.400, mewakili kenaikan 22%[9]. Namun, Ethereum telah tertinggal jauh dibandingkan Bitcoin, dengan penurunan 32% selama tiga tahun terakhir[9]. Pemegang Ethereum telah mengekspresikan ketidakpuasan dengan prioritas pengembangan yang ditetapkan oleh Ethereum Foundation, yang mungkin menjadi faktor dalam kinerja yang relatif lemah[9].
Sentimen Crypto 🧠
Investor institusional meningkatkan posisi long pada Ethereum dalam dua dari tiga minggu terakhir[9], menunjukkan sentimen yang membaik terhadap aset kripto kedua terbesar ini. Secara lebih luas, pasar cryptocurrency mengalami penurunan 20,2% pada Februari 2025, didorong oleh melemahnya kepercayaan di pasar tradisional dan kripto, hack historis sebesar US$1,5 miliar pada Bybit, dan penurunan aktivitas memecoin[12].
Metrik On-Chain ⛓️
Bybit mengalami pelanggaran keamanan terbesar dalam sejarah kripto dengan US$1,46 miliar dicuri dari dompet dingin multisig ETH-nya dalam serangan phishing yang dipimpin oleh Lazarus Group[12]. Insiden ini menunjukkan tantangan keamanan yang berlanjut di ekosistem kripto dan pentingnya protokol keamanan yang kuat, terutama untuk pertukaran dan platform yang mengelola aset dalam jumlah besar.
Perkembangan Regulasi 📜
Pada ETH San Francisco terakhir pada Oktober 2024, optimisme meningkat, menyebabkan kenaikan harga ETH, didorong oleh harapan komunitas bahwa Foundation akan menjadi lebih responsif di masa depan[9]. Namun, sejak saat itu, harga telah kembali ke level akhir 2023[9]. Dinamika ini mencerminkan pentingnya tata kelola dan pengembangan berkelanjutan dalam ekosistem kripto.
Fokus Pasar Indonesia 🇮🇩
Analisis IHSG 📊
Meskipun pasar global mengalami tekanan, Indonesia memiliki beberapa kekuatan relatif. Pertumbuhan PDB Indonesia yang tangguh sekitar 5% dibandingkan ekonomi lain yang mungkin mengalami perlambatan ekonomi lebih besar; pendekatan konsensus Prabowo melalui pembentukan partai mayoritas menciptakan stabilitas politik yang lebih besar; dan potensi peningkatan FDI dari negara-negara anggota BRICS[10]. Faktor-faktor ini dapat memberikan dukungan untuk IHSG di tengah ketidakpastian global.
Breakdown Sektor 🏢
Dengan pola rotasi global dari growth ke value stocks, sektor-sektor value di Indonesia seperti keuangan, energi, dan konsumen mungkin akan mengungguli sektor growth. Valuasi pasar Indonesia telah menjadi lebih masuk akal dengan P/E 2025 sebesar 11,9 (-1,1 sd), membuka jalan untuk kinerja pasar yang lebih baik[10]. Positioning sektor yang tepat akan menjadi kunci dalam menavigasi pasar Indonesia.
Pendorong Rupiah 💴
Rupiah menghadapi beberapa tantangan eksternal. Penguatan terbaru yield UST yang didorong oleh pelonggaran moneter The Fed yang berhati-hati, dapat terus melemahkan Rupiah, menyebabkan arus keluar asing yang persisten dari pasar obligasi dan ekuitas[10]. Selain itu, potensi depresiasi Yuan untuk menstimulasi ekspor Tiongkok di tengah perang dagang Trump kemungkinan akan menekan mata uang regional lainnya termasuk Rupiah[10].
Indikator Ekonomi 📉
Indonesia diproyeksikan mempertahankan pertumbuhan PDB yang tangguh sekitar 5% di tengah perlambatan global[10]. Namun, ekonomi Tiongkok yang lemah dapat menekan harga komoditas, menurunkan pendapatan petani dan memperburuk defisit kembar Indonesia[10]. Perkembangan ekonomi di Tiongkok dan kebijakan perdagangan AS akan memiliki dampak signifikan pada prospek ekonomi Indonesia.
Arus Asing 💸
Dengan indeks turun 2,7% pada 2024 dan arus keluar asing bersih sebesar IDR 29 triliun (USD 1,9 miliar), valuasi telah menjadi lebih masuk akal dengan P/E 2025 sebesar 11,9 (-1,1 sd), membuka jalan untuk kinerja pasar yang lebih baik[10]. Potensi perpindahan modal dari AS ke pasar global lainnya dapat menguntungkan Indonesia jika investor mencari pasar dengan valuasi menarik dan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Penilaian Teknikal Pasar 📊
Analisis Tren 📈
Analisis teknikal menunjukkan pola yang beragam di berbagai pasar. Germany 40 (DAX) dan UK 100 (FTSE) menunjukkan tren bullish dalam fase impulsif, dengan RSI masing-masing 80 dan 62[5]. Sementara itu, Wall Street berada dalam tren bullish tetapi dalam fase koreksi, dengan RSI 55[5]. Tren bullish di pasar Eropa kontras dengan koreksi yang sedang berlangsung di AS, mencerminkan perbedaan dalam sentimen investor dan aliran modal.
Uji Level Kunci 🔑
Bitcoin memiliki support utama di level $86.500-$87.200 dan resistance di $88.500-$91.000[8]. Emas berada dalam fase impulsif bullish dengan support pada $2.722 dan resistance pada $2.955[5]. EUR/USD dan GBP/USD keduanya berada dalam fase konsolidasi, dengan EUR/USD memiliki support di 1,0253 dan resistance di 1,0529, sementara GBP/USD memiliki support di 1,2293 dan resistance di 1,2600[5]. Level-level ini akan menjadi penting untuk diperhatikan dalam beberapa minggu ke depan.
Pola Chart 📉
Emas menunjukkan pola bullish yang kuat dengan fase impulsif dan RSI 65[5], memberikan konfirmasi teknis untuk outlook fundamental yang positif. Wall Street berada dalam fase koreksi dengan RSI 55[5], menunjukkan keseimbangan antara tekanan jual dan beli. USD/JPY berada dalam tren bearish dengan fase impulsif dan RSI 37[5], menunjukkan momentum bearish yang kuat.
Market Breadth 📊
S&P 500 turun 1,5% minggu ini[1], dengan tekanan penjualan yang lebih besar di saham growth. Nasdaq mengalami penurunan terbesar sebesar 2,6%[1], menunjukkan tekanan yang lebih kuat pada saham teknologi dan pertumbuhan. Divergensi kinerja antara indeks mencerminkan rotasi pasar yang sedang berlangsung.
Sentimen & Positioning 🧠
Sentimen Investor 🤔
Investor institusional meningkatkan posisi long pada Ethereum dalam dua dari tiga minggu terakhir[9], menunjukkan sentimen yang membaik terhadap altcoin utama ini meskipun kinerjanya tertinggal dari Bitcoin. Di pasar ekuitas, survei menunjukkan alokasi terbesar dalam sebulan dari ekuitas AS yang pernah tercatat[2], yang dapat menjadi indikator kontrarian potensial jika berlebihan.
Positioning COT 📋
Bank sentral besar Asia diperkirakan akan melanjutkan strategi pembelian emas yang kuat selama 3-6 tahun ke depan untuk memenuhi tujuan cadangan mereka[7]. Goldman Sachs telah meningkatkan asumsi permintaan bank sentral menjadi 70 ton per bulan dari 50 ton sebelumnya[7], mencerminkan pergeseran strategis dalam pengelolaan cadangan global yang dapat terus mendukung harga emas.
Arus Dana 💰
Survei menunjukkan alokasi terbesar dalam sebulan dari ekuitas AS yang pernah tercatat, dengan sebagian dana mengalir ke Jerman dan pasar Eropa yang lebih luas, sebagian ke Tiongkok, dan ada juga alokasi besar ke US Treasuries[2]. Pola aliran dana ini mencerminkan pergeseran sentimen investor global dan dapat memiliki dampak signifikan pada kinerja pasar regional.
Risiko yang Perlu Diperhatikan ⚠️
Risiko Pasar Utama 🚨
Ketidakpastian perdagangan tetap menjadi risiko utama pasar, dengan banyak perusahaan mulai menyebutkannya sebagai hambatan signifikan[2]. Kekhawatiran sekitar tarif dan dampaknya pada ekonomi telah menjadi fokus utama investor dan pembuat kebijakan[4]. Ketidakpastian ini dapat terus membatasi sentimen bisnis dan investasi, menekan pertumbuhan ekonomi global.
Potensi Pemicu 💥
Eskalasi ketegangan perdagangan atau geopolitik dapat menjadi pemicu penurunan pasar lebih lanjut. Masalah di Ukraina dan Timur Tengah masih belum terselesaikan[2], dan perkembangan negatif di front-front ini dapat meningkatkan volatilitas pasar. Selain itu, kebijakan tarif yang lebih agresif dari yang diantisipasi dapat mengganggu rantai pasokan global dan memicu inflasi yang lebih tinggi.
Sinyal Peringatan ⚠️
Penurunan perkiraan pertumbuhan PDB di ekonomi utama dunia menjadi sinyal peringatan untuk diperhatikan[2]. Aktivitas bisnis di Jepang mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam lima bulan[6], yang dapat menjadi indikator awal dari perlambatan global yang lebih luas jika pola serupa muncul di wilayah lain.
Strategi Hedging 🛡️
Dalam lingkungan yang semakin tidak pasti, strategi hedging menjadi semakin penting. Alokasi ke value stocks dan emas dapat menjadi strategi hedging yang efektif dalam kondisi saat ini. Selain itu, diversifikasi geografis ke pasar dengan valuasi lebih menarik dan prospek pertumbuhan yang lebih kuat dapat membantu melindungi portofolio dari volatilitas pasar AS.
Kalender & Earnings 📅
Event Penting Minggu Depan 📆
Rilis ekonomi penting minggu depan termasuk ISM Manufacturing PMI dan laporan nonfarm payrolls[1]. Di Inggris, data inflasi diharapkan pada hari Rabu, dan pada hari Jumat kita akan mendapatkan data PCE AS (ukuran inflasi pilihan Federal Reserve)[2]. Event-event ini akan memberikan wawasan penting tentang kesehatan ekonomi global dan arah kebijakan moneter.
Kalender Earnings 💼
Musim laporan pendapatan kuartal pertama 2025 diperkirakan akan dimulai pada minggu kedua April, dipimpin oleh raksasa perbankan JPMorgan Chase dan Wells Fargo[13]. Analis di FactSet memperkirakan tingkat pertumbuhan pendapatan (year-over-year) sebesar 18,2% untuk perusahaan S&P 500, yang akan menandai pertumbuhan pendapatan (year-over-year) tertinggi yang dilaporkan oleh indeks sejak Q4 2021[13].
Pantauan Geopolitik 🌍
Ketegangan di Ukraina dan Timur Tengah masih belum terselesaikan[2], dan perlu dipantau perkembangannya. Selain itu, perkembangan negosiasi perdagangan dan implementasi kebijakan tarif akan memiliki implikasi signifikan untuk pasar global dan perlu dipantau secara ketat.
Strategi Portofolio 📋
Pandangan Alokasi Aset 📊
Berdasarkan analisis pasar saat ini, strategi alokasi aset yang disarankan adalah overweight pada ekuitas, terutama value stocks, dan underweight pada growth stocks[14]. Pada pasar pendapatan tetap, posisi underweight pada durasi adalah pendekatan yang bijaksana, meskipun yield UST 10Y sekitar 4,5% berada di tengah-tengah pandangan jangka panjang kita[14].
Positioning Sektor 🏢
Sektor-sektor value seperti keuangan, energi, dan konsumen mungkin akan mengungguli sektor growth seperti teknologi di tengah rotasi pasar yang sedang berlanjut[3]. Kami tetap overweight pada ekuitas, setelah menambahkan eksposur ekuitas Eropa secara inkremental pada Februari[14], mencerminkan valuasi relatif yang lebih menarik dan aliran modal positif ke wilayah tersebut.
Eksposur Geografis 🌎
Diversifikasi geografis semakin penting dengan menurunnya korelasi antara pasar ekuitas[11]. Posisi overweight pada ekuitas Eropa dan underweight pada ekuitas AS dapat menjadi pendekatan yang bijaksana, mengingat valuasi relatif dan tren aliran modal[14]. Pasar negara berkembang, terutama dengan pertumbuhan ekonomi yang tangguh seperti Indonesia, juga dapat menawarkan peluang di tengah ketidakpastian global.
Manajemen Risiko ⚖️
Di tengah ketidakpastian yang meningkat, langkah-langkah manajemen risiko menjadi semakin penting. Diversifikasi, baik di seluruh kelas aset maupun geografis, tetap menjadi strategi defensif utama. Alokasi ke aset safe haven seperti emas dan obligasi berkualitas tinggi dapat memberikan perlindungan terhadap volatilitas pasar yang meningkat.
Area Peluang 💡
Saham-saham small-cap tetap undervalued dibandingkan dengan pasar secara luas, baik secara absolut maupun relatif[3], menawarkan peluang potensial. Emas juga menunjukkan prospek positif, dengan Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga akhir 2025 menjadi $3.300 per ons[7]. Di pasar kripto, Ethereum dipandang undervalued dengan potensi kenaikan hingga 22%[9], meskipun investor harus menyadari volatilitas dan risiko yang lebih tinggi di ruang ini.
Daftar Pustaka 📚
- [1] https://www.edwardjones.com/us-en/market-news-insights/stock-market-news/stock-market-weekly-update
- [2] https://www.youtube.com/watch?v=MDl0SELsFTE
- [3] https://www.morningstar.com/markets/march-2025-us-stock-market-outlook-tariffs-are-wild-card
- [4] https://www.cnbc.com/2025/03/19/fed-rate-decision-march-2025.html
- [5] https://www.spreadex.com/financials/news-analysis/weekly-technical-analysis/17022025/
- [6] https://www.icmarkets.com/blog/ic-markets-europe-fundamental-forecast-24-march-2025/
- [7] https://www.reuters.com/markets/commodities/goldman-sachs-raises-end-2025-gold-price-forecast-3300-per-ounce-2025-03-26/
- [8] https://reku.id/en/rekap/bitcoin-btc-and-aave-aave-technical-analysis-26-march-2025
- [9] https://www.forbes.com/sites/digital-assets/2025/03/29/time-to-buy-ethereum-smart-moneys-view/
- [10] https://samuel.co.id/research-reports/2025-market-outlook/
- [11] https://www.lseg.com/content/dam/ftse-russell/en_us/documents/market-insights/asset-allocation/asset-allocation-insights-march-2025.pdf
- [12] https://www.binance.com/ro/blog/research/binance-research-key-trends-in-crypto–march-2025-4333224542541210966
- [13] https://www.ii.co.uk/investing-with-ii/international-investing/us-earnings-season
- [14] https://www.morganstanley.com/im/publication/insights/articles/article_thebeatmar2025.pdf
Disclaimer ⚠️
Perlu diperhatikan bahwa ulasan pasar ini bukan merupakan nasihat keuangan. Data dan analisis yang disajikan dapat tidak akurat atau keliru. Pembaca diharapkan untuk melakukan penelitian sendiri (DYOR – Do Your Own Research) sebelum membuat keputusan investasi apapun. Bagi pemeluk agama Islam, disarankan untuk memeriksa kesesuaian dengan prinsip-prinsip Syariah terlebih dahulu sebelum melakukan investasi.
Tinggalkan komentar