Analisis Pasar Komoditas – Kuartalan – Q1 2025 – Q2 2025

Poin-Poin Utama

  1. Harga emas melonjak 19% di Q1 ✨ – didorong oleh akumulasi bank sentral, tren de-dolarisasi, dan lindung nilai geopolitik – sementara harga minyak turun 11% karena kelebihan pasokan dan melemahnya permintaan[1][2].
  2. Logam industri menunjukkan pergerakan berbeda 🏭 – tembaga naik 25% karena penimbunan akibat tarif meskipun permintaan stagnan, sementara aluminium (+8%) diuntungkan dari kendala pabrik peleburan[1][3].
  3. Gas alam muncul sebagai kartu liar Q2 🔥 – penyimpanan Eropa pada kapasitas 30-35% dibandingkan dengan 58% pada 2024 menciptakan permintaan pengisian ulang yang mendesak di tengah pasokan LNG yang terbatas[4][5].

Analisis Kinerja Pasar Q1 2025 📉

Logam Mulia: Akumulasi Emas Historis 🥇

Harga emas melonjak hingga $3,127/oz (+19% QTD), menandai kinerja kuartalan terkuat sejak 2020. Bank sentral membeli lebih dari 1,000 ton metrik untuk tahun ketiga berturut-turut, dengan negara-negara BRICS mempercepat diversifikasi cadangan mereka[4][3]. Perak (+14%) berkinerja lebih rendah dari emas karena permintaan industri melemah, sementara paladium (-6%) terdampak negatif karena adopsi kendaraan listrik mengurangi kebutuhan konverter katalitik[1][2].

Rasio emas/perak melebar menjadi 85:1, mencerminkan pasar yang lebih memperhitungkan risiko resesi dibandingkan pemulihan industri. COMEX managed money net longs mencapai 215k kontrak, tertinggi sejak 2019, saat investor institusional kembali melirik ETF emas[4][3].

Pasar Energi: Penurunan Minyak vs Ketahanan Gas ⛽

Minyak Brent turun 11% menjadi $74/bbl – catatan Q1 terburuk sejak 2020 – karena pertumbuhan produksi non-OPEC (+1.4 mb/d) mengungguli permintaan yang stagnan. Produksi shale AS mencapai 13.2 mb/d meski jumlah rig menurun, sementara impor minyak China berkurang 3% akibat perlambatan sektor manufaktur[5][6].

Gas alam (HH) tampil lebih baik dengan kenaikan 18% karena defisit penyimpanan Eropa mendorong penawaran LNG yang agresif. Penyimpanan UE turun ke level 30% kapasitas setelah Rusia menghentikan aliran pipa pada 1 Januari, sehingga memerlukan impor Q2 sebesar 55 bcm dibandingkan dengan 40 bcm pada 2024[4][5].

Logam Industri: Gejolak Tarif Mengubah Pasar 🏗️

Tembaga menunjukkan perbedaan historis – futures New York HG (+25%) diperdagangkan dengan premium 12% dibandingkan harga London karena importir AS mengantisipasi kemungkinan tarif 25%. Situasi ini menciptakan arbitrase fisik di mana 380k ton persediaan LME dipindahkan ke gudang AS, memperketat ketersediaan global menjelang defisit yang diproyeksikan pada 2025[3][7].

Aluminium (+8%) diuntungkan dari pembatasan pabrik peleburan yang intensif energi di Yunnan, sementara nikel (-12%) melanjutkan tren penurunan 18 bulan akibat kelebihan pasokan dari Indonesia[1][8].

Komoditas Pertanian: Kelebihan Biji-bijian vs Kekuatan Produk Lunak 🌾

Harga gandum turun 9% seiring berlanjutnya ekspor dari kawasan Laut Hitam, sementara proyeksi USDA menunjukkan rasio stok/penggunaan global pada 29.5% – tertinggi sejak 2018. Kakao (+34%) memperpanjang rallynya ke $11,800/ton karena gagal panen di Pantai Gading, sementara beras (-18%) anjlok setelah India mencabut larangan ekspor[5][6].

Prospek Q2 2025 & Titik Pengamatan Penting 🔮

Logam Mulia: Emas $3,300 dalam Pandangan 💰

Pelanggaran teknis resistensi $3,100 dan moving average 200-minggu ($2,850) mengindikasikan emas berpotensi menguji level $3,300 pada Juni. Bank sentral diproyeksikan akan membeli 800-900 ton di Q2, dipimpin oleh pembelian bulanan China sebesar 16 ton. Perak kemungkinan akan mengejar ketertinggalan jika PMI manufaktur pulih di atas 50[4][3].

Level Penting 📊

  • Emas: $3,100 (support), $3,300 (target)
  • Perak: $35 (resistance), $44 (bull case)

Kompleks Energi: Lomba Pengisian Gas vs Contango Minyak ⚡

Kebutuhan pengisian ulang penyimpanan gas Eropa (+45 bcm vs 2024) akan menjaga harga LNG tetap tinggi meski ada 12 FID baru untuk proyek ekspor 2026-27. Kurva futures JKM menunjukkan $14/MMBtu untuk Juli vs $12 spot, mendorong pembelian di awal periode[4][5].

Pasar minyak menghadapi surplus 1.2 mb/d di Q2 kecuali OPEC+ memperpanjang pengurangan produksi. Perubahan dari backwardation ke contango di WTI menandakan para trader mengantisipasi stok Cushing naik di atas 40 juta barel pada Juni[6][3].

Logam Industri: Risiko Pelaksanaan Tarif 📋

Keputusan tarif Departemen Perdagangan AS pada 15 April akan menentukan rentang harga tembaga $4.5-$5.2/lb. Bea 25% berpotensi menahan lebih dari 500k ton di gudang AS, namun premium fisik di atas $0.35/lb dapat mendorong arbitrase ekspor[3][7].

Pengaktifan kembali pabrik peleburan aluminium di Yunnan, China (+1.2 mtpa) diperkirakan dapat mengurangi ketegangan pasar di Q2, meski biaya listrik masih 30% lebih tinggi dari level 2024[8].

Pasar Pertanian: Derivatif Cuaca dalam Fokus 🌧️

NOAA memperkirakan peluang 65% terjadinya La Niña pada Juli, yang mengancam hasil panen jagung Amerika Selatan dan kedelai AS. Pasar opsi menetapkan premium volatilitas 20% untuk jagung Juli dibandingkan rata-rata historis 15%[5][6].

Rekomendasi Strategis 💼

Tindakan Jangka Pendek (0-3 Bulan) ⏱️

  1. Rasio Pasangan Emas/Perak: Lindung nilai posisi long emas dengan short perak pada 85:1, dengan target pembalikan ke 75:1
  2. Spread Kalender Gas Alam: Beli JKM Juli vs jual Oktober dengan premium $2.5
  3. Arbitrase Tembaga: Jual COMEX Juli ($5.05/lb) vs beli LME Juli ($4.48/lb) jika tarif <15%

Posisi Jangka Menengah (3-12 Bulan) 📅

  1. Spread Put Brent: Beli put $70/$65 untuk jatuh tempo Juli saat disiplin OPEC+ mulai melemah
  2. Swap Paladium/Platinum: Ganti kepemilikan ETF paladium dengan platinum pada rasio 0.6:1
  3. Opsi Call Kakao: Beli call Desember $13,000 untuk 8% notional

Alokasi Portofolio Jangka Panjang 📊

  1. Keranjang Logam Transisi Energi: 40% tembaga, 30% nikel, 20% logam tanah jarang, 10% uranium
  2. Pertanian Tahan Iklim: Futures tanaman hemat air (varian gandum tahan kekeringan)
  3. Penambang Emas vs Bullion: Alokasi 25% untuk junior GDXJ dengan AISC <$800

Analisis ini menyintesis data dari berbagai sumber otoritatif, yang disaring berdasarkan kebaruan dan ketelitian analitis. Pasar saat ini terbagi antara tekanan siklikal dan pergeseran struktural – investor sebaiknya memprioritaskan fleksibilitas dalam strategi perdagangan sambil mempertahankan eksposur inti pada tema transisi energi dan penyimpanan nilai.

Referensi 📚

Disclaimer ⚠️

Dokumen ini bukan merupakan nasihat keuangan. Data dan analisis yang disajikan dapat tidak akurat atau keliru. Pembaca disarankan untuk melakukan penelitian sendiri (DYOR – Do Your Own Research) sebelum mengambil keputusan investasi. Bagi umat Muslim, disarankan untuk memeriksa kesesuaian dengan prinsip Syariah terlebih dahulu.


Eksplorasi konten lain dari Analisa Pasar

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar