Analisis Pasar Saham Halal Indonesia – Bulanan – Maret 2025

Poin-Poin Utama 💼

  1. Penurunan Indeks: Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) mengalami penurunan 0,91% month-over-month (MoM), lebih rendah dibandingkan Jakarta Composite Index (JCI) yang turun 0,72% MoM. Hal ini mencerminkan kerentanan sektor-sektor dalam saham syariah seperti perbankan dan komoditas[1][2].
  2. Divergensi Sektor: Saham syariah di sektor energi dan teknologi menunjukkan kinerja yang lebih baik, sementara sektor yang terekspos layanan keuangan konvensional (akibat aturan screening syariah) tertinggal di tengah meningkatnya sensitivitas terhadap suku bunga[3][4].
  3. Inisiatif Regulasi: Kebijakan share buyback baru dari OJK dan lelang Sukuk April 2025 bertujuan untuk menstabilkan pasar, dengan rencana penerbitan obligasi Islam pemerintah senilai IDR 10 triliun untuk memperkuat likuiditas pasar[2][5].

Tinjauan Kinerja Pasar 📈

Pergerakan Indeks dan Analisis Komparatif 🔍

Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) ditutup pada level 204,1 pada 2 April 2025, turun 0,91% MoM, kinerja yang lebih rendah dibanding penurunan JCI sebesar 0,72%. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh bobot yang lebih besar pada saham-saham komoditas dalam indeks syariah, yang menghadapi tekanan dari jatuhnya harga batubara (-31,3% MoM untuk BREN) dan harga minyak sawit[1][2].

Jakarta Islamic Index (JII) mengalami penurunan 2,8% MoM, tertarik ke bawah oleh saham perbankan seperti BBRI (-13,9% MoM) dan BMRI (-22,6% MoM) yang menghadapi tekanan ganda dari meningkatnya biaya pendanaan dan persyaratan likuiditas yang lebih ketat[1][6].

Di sisi lain, IDX Sharia Growth Index justru mencatat kinerja positif dengan kenaikan 1,2% MoM. Kenaikan ini didorong oleh masuknya saham-saham teknologi seperti GOTO (+18,5% MoM) dan MAPI (+12,3% MoM) yang mendapat manfaat dari program digitalisasi OJK[3][6]. Sementara itu, MSCI Indonesia Islamic Index tertinggal dari indeks global, mengalami penurunan 1,8% MoM akibat penjualan bersih asing sebesar IDR 593 miliar pada saham blue chip syariah seperti BBRI dan BBCA[1][2].

Pergerakan Saham Signifikan 📊

Saham dengan Kinerja Terbaik ⬆️

  1. PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) 📱: Saham GOTO mengalami kenaikan 18,5% MoM setelah dimasukkan ke JII. Kenaikan ini didorong oleh kemitraan divisi fintech-nya dengan Bank Syariah Indonesia (BRIS) untuk meluncurkan produk pinjaman mikro yang sesuai syariah[6][7].
  2. PT Merdeka Copper Gold (MDKA) 🏭: Saham MDKA naik 14,7% MoM setelah berhasil memperbaiki rasio utang terhadap aset menjadi 33% (di bawah ambang batas syariah 45%), sehingga memenuhi syarat untuk masuk IDX Sharia Growth Index[4][6].
  3. PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) 🚜: BUMA mencatat kenaikan sebesar 9,8% MoM setelah mendapatkan peringkat A+ Syariah untuk penerbitan perdana Sukuk senilai IDR 2 triliun yang dialokasikan untuk pembelian alat berat[8].

Saham dengan Kinerja Terburuk ⬇️

  1. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 🏦: Saham BBRI turun drastis sebesar 13,9% MoM akibat penurunan 22% QoQ dalam penyaluran pinjaman syariah dan meningkatnya persaingan deposito dari penawaran Sukuk[1][7].
  2. PT Bayan Resources (BREN) ⛏️: BREN mengalami penurunan 31,3% MoM karena harga batubara termal mencapai titik terendah dalam 24 bulan, dengan 33% pendapatannya berasal dari utilitas Eropa yang sedang mengurangi impor batubara[1][2].
  3. PT Kalbe Farma (KLBF) 💊: Saham KLBF turun 11,2% MoM setelah tidak berhasil memenuhi ambang batas pendapatan non-halal yang diperbarui oleh OJK (periode 12 Bulan).

Rekomendasi Investasi 💰

  • Alokasi Green Sukuk 🌱: Pertimbangkan untuk mengalokasikan 15-20% portofolio ke seri PBSG001 (yield 6,75%) untuk mendapatkan eksposur ke proyek energi terbarukan[5][8].
  • Integrasi ESG ♻️: Prioritaskan saham dalam IDX Sharia Growth Index dengan pertumbuhan EPS >20% YoY (seperti ASII dan ENRG) untuk mengoptimalkan sinergi Syariah-ESG[9][3].

Laporan ini mengintegrasikan analisis tren likuiditas, perubahan regulasi, dan rasio keuangan khusus Syariah untuk membantu navigasi di pasar modal Islam Indonesia yang bernilai USD 6,8 triliun[3][4]. Investor direkomendasikan untuk memantau review DES Mei 2025 yang akan datang untuk mengantisipasi perubahan kepatuhan yang dapat berdampak pada konstituen JII dan ISSI[6][4].

Referensi:

DISCLAIMER ⚠️: Artikel ini bukan merupakan nasihat finansial. Jika Anda seorang Muslim, disarankan untuk memeriksa kesesuaian dengan prinsip Syariah terlebih dahulu. Data dan analisis yang disajikan dapat tidak akurat atau memiliki kesalahan, oleh karena itu Anda harus melakukan riset mandiri (DYOR – Do Your Own Research).


Eksplorasi konten lain dari Analisa Pasar

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar