Minggu lalu menandai momen penting di pasar global saat investor mencerna implementasi tarif “Liberation Day” dari Trump dan memposisikan diri mereka di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Ulasan ini mengkaji bagaimana berbagai kelas aset berkinerja dalam konteks ini dan mengidentifikasi tren utama yang membentuk lanskap investasi.
Ringkasan Eksekutif 📝
- Tarif Trump mendominasi sentimen pasar 🔍 – Implementasi tarif “Liberation Day” Trump pada 2 April, meskipun lebih sempit cakupannya daripada yang awalnya ditakutkan, memicu volatilitas signifikan di pasar global. Dow Jones mengalami penurunan harian terburuk dalam lima tahun (-5,5%) sebelum pulih kembali pada akhir minggu[1].
- Flight to safety semakin meningkat 🛡️ – Emas melanjutkan rally historisnya, menyentuh level tertinggi baru sepanjang masa di $3.057,31 per ons karena investor mencari safe haven di tengah gejolak pasar. Indikator sentimen di pasar equity dan crypto anjlok ke wilayah “Extreme Fear”[2][3][4].
- Perbedaan kebijakan bank sentral semakin intensif 🏦 – Seiring ekonomi utama merespons tekanan inflasi secara berbeda, jadwal pertemuan bank sentral April (BoC, ECB, RBA, dan RBNZ) menjadi semakin penting. Sinyal Fed sebelumnya tentang potensi penurunan suku bunga tahun ini tampak semakin tidak pasti di tengah kekhawatiran inflasi akibat tarif[5][6].
Ulasan Kinerja Pasar Mingguan 📈
Pasar equity global menunjukkan volatilitas yang nyata setelah implementasi tarif, dengan kinerja regional yang berbeda-beda:
- Pasar AS 🇺🇸: Setelah mengalami kerugian tajam di pertengahan minggu, indeks AS mengalami rebound signifikan dengan S&P 500 naik 3,78% dan Nasdaq naik 4,89% hanya pada hari Kamis, meskipun tetap jauh di bawah level pra-tarif[7].
- Pasar Eropa 🇪🇺: Equity Eropa terus mengungguli rekan-rekan AS mereka, melanjutkan tren yang diamati sepanjang Q1. European high yield bonds khususnya menonjol di antara aset fixed income[8].
- Pasar Asia 🌏: Indeks Asia secara luas menurun dengan Nikkei menghadapi penurunan paling curam setelah pengumuman tarif. IHSG Indonesia membalikkan tren ini, rebound 4,03% mingguan untuk ditutup pada 6.510,620[9].
Rotasi sektor menunjukkan financials memimpin kinerja di seluruh wilayah, diikuti oleh telecommunications dan energy, sementara technology dan consumer discretionary tertinggal secara signifikan[8]. Ini merupakan pergeseran nyata dari dominasi technology sebelumnya.
Di seluruh kelas aset, emas bersinar melampaui semua pesaing dengan rally berkelanjutan (+0,28% hanya pada hari Jumat)[5]. Bonds menguat karena Treasury yields menurun, sementara cryptocurrency mengalami volatilitas tinggi tetapi menunjukkan ketahanan relatif dengan Bitcoin bertengger di atas $76.500[4].
Rekap Makroekonomi & Kebijakan 🏛️
Peristiwa makroekonomi yang mendefinisikan minggu ini tidak diragukan lagi adalah implementasi rencana tarif Trump, yang meskipun lebih tertarget daripada janji kampanyenya, tetap menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan perdagangan[2]. Pasar awalnya anjlok karena ketakutan akan gangguan ekonomi yang meluas sebelum sebagian pulih saat detail muncul.
Perkembangan penting lainnya meliputi:
- Pemotongan suku bunga Bank of Canada sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%, mengutip gangguan perdagangan yang berkelanjutan sebagai krisis potensial bagi ekonomi mereka[5].
- Disinflasi berlanjut di AS sebagaimana dibuktikan oleh angka CPI dan PPI yang melunak untuk Februari, kontras dengan inflasi Kanada yang mengejutkan tinggi di 2,6% year-over-year (versus ekspektasi 2,2%)[5].
- Meningkatnya ketegangan politik di Turki saat Walikota Istanbul dipenjara atas tuduhan korupsi, memicu volatilitas di pasar Turki[5].
Sentimen investor memburuk secara nyata, dengan Fear & Greed Index CNN anjlok ke 4, menunjukkan “Extreme Fear”—salah satu pembacaan terendah dalam sejarah terkini[3].
Analisis Aset Utama (Pandangan Mingguan) 🔎
Currencies 💱
Dolar AS diperdagangkan dalam rentang yang relatif sempit minggu ini meskipun ada implementasi tarif. Pasangan USD/IDR turun ke 16.670 (-0,45%), mencerminkan penguatan rupiah terhadap dolar[10]. Pergerakan signifikan lainnya termasuk GBPIDR di 21.741,34 (-0,89%) dan AUDIDR mengalami penurunan substansial 3,85%[10].
Fixed Income 📝
Treasury yields melanjutkan trajektori menurun, dengan 10-year note berakhir 4 April di 4,01% dan 2-year note di 3,68%—level terendah mereka sejak Oktober[11]. Yield curve tetap terbalik (inverted), indikator resesi yang secara historis signifikan, meskipun spread telah sedikit menyempit[11].
Commodities 🥇
Emas mempertahankan peran utamanya di pasar, mencapai level tertinggi sepanjang masa baru di atas $3.050 per ons karena investor memprioritaskan keamanan di tengah ketidakpastian[2]. Logam ini telah mengungguli aset investasi lain secara global di 2025, didukung oleh ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung antara Rusia-Ukraina dan Israel-Gaza[2].
Cryptocurrencies 🪙
Bitcoin menunjukkan karakteristik “digital gold”-nya, melonjak 0,9% menyentuh $83.961 sementara pasar tradisional mengalami penurunan signifikan[1]. Namun, indikator teknis memberikan peringatan dengan formasi “Death Cross” (moving average 50 hari melintasi di bawah 200 hari) menandakan potensi kelemahan jangka pendek[1]. Indeks sentimen crypto yang lebih luas anjlok ke 25, mencerminkan “Extreme Panic”[4].
Fokus Pasar Indonesia 🇮🇩
Pasar Indonesia menunjukkan ketahanan luar biasa di tengah gejolak regional. IHSG rebound kuat sebesar 4,03% (252,441 poin) ke 6.510,620, pulih dari level terendah multi-tahun[9]. Kinerja ini sangat kontras dengan kelemahan pasar Asia yang lebih luas.
Rupiah menguat terhadap mata uang utama, dengan USD/IDR turun 0,45% ke 16.670[10]. Apresiasi ini terjadi meskipun Indonesia menjadi target tarif 32% dalam rencana Trump[9].
Pendorong utama untuk aset Indonesia meliputi:
- Investor asing kembali dengan capital inflow sekitar Rp1,9 triliun setelah capital outflow sebelumnya[9].
- Antisipasi rilis data inflasi (IHK) hari Selasa[9].
- Peningkatan sentimen bisnis domestik setelah periode liburan pasca-Lebaran.
Ketahanan pasar Indonesia menunjukkan investor mungkin memandang negara ini relatif terisolasi dari ketegangan perdagangan global dibandingkan dengan ekonomi Asia yang lebih bergantung pada ekspor.
Snapshot Sentimen & Teknikal 📊
Sentimen pasar memburuk secara drastis, dengan beberapa indikator mencatat pesimisme ekstrem:
- Fear & Greed Index CNN anjlok ke 4, jauh di wilayah “Extreme Fear”[3].
- Crypto Fear & Greed Index turun ke 25, mencerminkan “Extreme Panic”[4].
- Pengukuran sentimen PyInvesting menunjukkan hanya 30% saham dalam uptrend[12].
Ketakutan yang meluas ini secara historis mewakili peluang pembelian kontrarian, meskipun sifat unik dari ketegangan perdagangan saat ini mengharuskan investor bersikap hati-hati.
Secara teknikal, IHSG menghadapi level resistance di 6.707 dan 6.909, dengan support di 6.015 dan 5.938[9]. USD/IDR menemui resistance di 16.657 dan 16.738, dengan support di 16.464 dan 16.309[9]. Sebagian besar indeks utama menguji dan mempertahankan level support kritis selama volatilitas minggu ini, menunjukkan potensi stabilisasi.
Outlook & Acara Penting untuk Minggu Depan 🔮
Minggu depan kemungkinan akan didominasi oleh penilaian berkelanjutan terhadap dampak tarif dan data inflasi penting. Tema utama meliputi:
- Potensi pengumuman tarif timbal balik dari mitra dagang AS yang terkena dampak oleh tindakan “Liberation Day”.
- Pembacaan inflasi yang dapat mempengaruhi trajektori kebijakan bank sentral.
- Potensi pemulihan sentimen pasar dari level ketakutan ekstrem.
Acara penting mendatang:
- Laporan CPI (inflasi) AS dijadwalkan pada 10 April 2025[7].
- Rilis data inflasi Indonesia (IHK) pada hari Selasa[9].
- Pertemuan bank sentral termasuk BoC, ECB, RBA, dan RBNZ[5].
Pertimbangan strategis menunjukkan bahwa sementara ketakutan ekstrem saat ini biasanya menghadirkan peluang pembelian jangka panjang, investor sebaiknya tetap selektif dan mempertimbangkan posisi defensif sampai dampak tarif menjadi lebih jelas. Kinerja emas yang luar biasa mungkin berlanjut jika ketidakpastian tetap ada, sementara aset fixed income dapat menikmati keuntungan dari arus safe-haven jika kekhawatiran pertumbuhan ekonomi semakin intensif[2][11].
Referensi:
- [1] https://www.binance.com/en/square/post/22503162626674
- [2] https://www.goodreturns.in/news/gold-prices-prediction-for-april-2025-will-yellow-metal-continue-to-rally-at-fresh-historic-highs-1414385.html
- [3] https://feargreedmeter.com/fear-and-greed-index
- [4] https://cryptorank.io/news/feed/07ae4-crypto-market-fear-greed-index-hits-25-signaling-extreme-fear
- [5] https://www.rbcis.com/en/our-insights/view-article.page?dcr=templatedata%2Farticle%2Finsights%2Fdata%2F2025%2F04%2Ffx_spotlight_april
- [6] https://economic-research.bnpparibas.com/html/en-US/updated-economic-scenario-forecasts-Economic-Research-3-March-2025-3/3/2025,51187
- [7] https://feargreedmeter.com
- [8] https://www.lseg.com/content/dam/ftse-russell/en_us/documents/market-insights/performance/monthly-performance-report-us-april-2025.pdf
- [9] https://vibiznews.com/index.php/2025/04/05/antisipasi-pasar-setelah-libur-dan-pengumuman-tariff-domestic-market-outlook-8-11-april-2025/
- [10] https://id.tradingeconomics.com/indonesia/currency
- [11] https://www.advisorperspectives.com/dshort/updates/2025/04/04/treasury-yields-snapshot-april-4-2025
- [12] https://pyinvesting.com/fear-and-greed/
Disclaimer ⚠️
Artikel ini bukan merupakan nasihat keuangan. Jika Anda seorang Muslim, Anda sebaiknya memeriksa kepatuhan Syariah terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan investasi. Karena tulisan ini dibantu oleh AI dalam penulisannya, data dan analisis yang disajikan dapat tidak akurat atau bahkan keliru. Anda harus melakukan penelitian sendiri (DYOR – Do Your Own Research) dan verifikasi sebelum mengambil keputusan investasi apapun.
Tinggalkan komentar