Pasar global masih mengalami volatilitas tinggi 📈📉 menyusul pengumuman kebijakan tarif oleh Presiden Trump, penundaan sebagian yang diberlakukan kemudian, dan upaya para pelaku pasar memahami dampak ekonomi jangka panjangnya. Briefing ini menganalisis konsekuensi dari gejolak pasar ekstrem belakangan ini dan implikasinya bagi investor Indonesia.
3 Poin Penting untuk 11 April 2025: 🔑
- Perang dagang AS-China kini telah berevolusi dari sekadar sengketa ekonomi bilateral menjadi konfrontasi geopolitik global dengan dampak mendalam bagi kawasan Asia Timur. 🌐 Situasi ini memaksa pelaku pasar mengevaluasi ulang rantai pasok global dan hubungan perdagangan mereka. Fenomena ini menjadi sangat penting karena mewakili gangguan terbesar terhadap sistem perdagangan global sejak terbentuknya tatanan ekonomi liberal pasca-Perang Dunia II[1].
- Penundaan 90 hari yang diumumkan Trump untuk beberapa tarif “timbal balik” memicu rally historis pada hari Rabu (S&P 500 naik 9,52%), namun pasar berbalik arah dengan tajam kemarin saat indeks utama AS turun 2-3%. Pembalikan ini mengindikasikan skeptisisme investor terhadap sifat sementara dari keringanan tarif dan kekhawatiran berkelanjutan mengenai dampak ekonomi dari ketegangan perdagangan[2][3][4].
- Indeks volatilitas VIX, meski telah turun dari puncaknya di 46,98 (level tertinggi dalam lima tahun), masih bertahan di level yang cukup tinggi, menandakan ketidakpastian pasar yang berkelanjutan. ⚠️ Menariknya, data historis menunjukkan bahwa lonjakan VIX yang ekstrem sering menjadi pendahulu return jangka panjang yang positif – setelah lonjakan volatilitas besar sebelumnya sejak 2014, S&P 500 mencatatkan return tahunan rata-rata 4,4% dan return lima tahun sebesar 10,2%[5][6].
Ringkasan Arah Pasar untuk 11 April 2025: 🧭
- Pasar Global: Tren penurunan berlanjut setelah pembalikan tajam kemarin, dengan ketegangan perdagangan yang terus menjadi pendorong utama sentimen pasar. 🌍 Pasar Eropa menunjukkan kelemahan signifikan dengan FTSE 100 anjlok 9,86%, DAX turun 2,96%, dan CAC 40 melemah 3,20%[7].
- Saham AS: Outlook bearish untuk jangka pendek menyusul penurunan pada hari Kamis, seiring investor mengevaluasi ulang implikasi dari berlanjutnya ketegangan perdagangan. 🐻 Meski ada penundaan untuk beberapa tarif, tarif dasar 10% masih berlaku untuk semua negara, sementara China menghadapi pungutan yang jauh lebih berat sebesar 125%[4].
- Emas: Berpotensi menguat karena investor mencari safe-haven asset di tengah volatilitas pasar dan ketegangan geopolitik yang berkelanjutan. 🥇
- Pasar Crypto: Sentimen bercampur saat investor mempertimbangkan alternatif investasi di luar pasar tradisional selama periode volatilitas tinggi. 💱
- Pasar Indonesia (IHSG/Rupiah): Outlook tetap hati-hati dengan potensi kerentanan terhadap ketegangan perdagangan regional. Inflasi Indonesia kembali naik ke 1,03% year-on-year pada Maret setelah mengalami deflasi pada Januari dan Februari, mengindikasikan normalisasi kondisi ekonomi[8].
Ulasan Penutupan Pasar AS untuk 11 April 2025: 🇺🇸
- Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 1.000 poin kemarin, menghapus sebagian besar dari keuntungan historis 3.000 poin pada hari Rabu. 📉 Demikian pula, S&P 500 turun 2,6% dan Nasdaq turun 3,1% karena optimisme investor mengenai penundaan tarif memudar[4].
- Perdagangan after-hours tetap volatil dengan berita korporasi signifikan yang terbatas untuk mendorong sentimen. Sesi perdagangan extended melihat tekanan berkelanjutan pada indeks utama. 🕘
- Internal pasar mengungkapkan breadth yang memburuk, dengan saham yang menurun secara signifikan melebihi saham yang naik. Pada 7 April, NYSE melihat saham yang menurun melebihi yang naik dengan rasio 4,45-banding-1, dengan hanya 42 new highs dibandingkan dengan 2.036 new lows[6].
- VIX, meskipun di bawah rekor tertinggi multi-tahun Senin sebesar 46,98, terus menandakan level ketakutan yang tinggi. ⚡ Pengukur volatilitas ini telah mengalami lonjakan tiga hari terbesar tahun ini antara 4 April dan 7 April, naik 118%, menjadikannya peningkatan kelima terbesar sejak 2014[5][6].
Penilaian Pre-Market Asia untuk 11 April 2025: 🌅
- Futures Asia menunjukkan kelemahan berkelanjutan setelah penurunan Wall Street. 📊 Data sebelumnya menunjukkan futures Nikkei anjlok 3,9% ke 31.105, menunjukkan tekanan lebih lanjut pada ekuitas Asia[9].
- Mata uang regional tetap tertekan terhadap dolar, dengan perhatian khusus pada hubungan JPY/USD. USD/JPY berada di 144,9180 sesuai data terbaru[7].
- Berita semalam berfokus pada penghentian sementara Uni Eropa terhadap tarif pembalasan terhadap AS, yang bertujuan untuk mendorong perjanjian perdagangan yang dinegosiasikan setelah pembalikan sebagian Trump[3].
- Setup awal untuk IHSG tampak hati-hati karena pasar Indonesia menavigasi ketegangan perdagangan global sambil menyeimbangkan faktor ekonomi domestik, termasuk kembalinya inflasi setelah dua bulan deflasi[8].
Fokus Pasar Indonesia untuk 11 April 2025: 🇮🇩
- Rupiah diprediksi akan menghadapi tekanan bersama mata uang regional lainnya akibat ketegangan perdagangan yang berdampak pada emerging markets, khususnya negara-negara dengan hubungan ekonomi erat dengan China. 💱
- Inflasi Indonesia kembali mencatat kenaikan menjadi 1,03% year-on-year pada Maret 2025, naik dari -0,09% pada Februari. Angka ini menandai kembalinya kondisi normal setelah dua bulan deflasi yang disebabkan oleh program diskon listrik temporer. 📈 Meski demikian, level inflasi ini masih tergolong rendah secara historis untuk standar ekonomi Indonesia[8].
- Ketegangan perdagangan global menghadirkan dua sisi mata uang bagi Indonesia – tantangan dan peluang. Indonesia berpotensi mendapat keuntungan jika terjadi pergeseran basis manufaktur dari China ke Asia Tenggara, namun juga bisa menghadapi tekanan jika pertumbuhan ekonomi global melambat signifikan. 🏭
- Para investor perlu mencermati Pernyataan Kebijakan Moneter MAS Singapura (diperkirakan rilis antara 8-14 April) dan data GDP Indonesia (diperkirakan antara 10-14 April) untuk mendapatkan wawasan lebih komprehensif tentang kondisi ekonomi regional[10].
Saham yang Perlu Diperhatikan untuk 11 April 2025: 👀
- Peluang Undervalued Asia: Beberapa perusahaan Asia diperdagangkan dengan diskon signifikan terhadap estimasi nilai wajar, berpotensi menghadirkan peluang bagi value investor selama gejolak pasar. 💰 BuySell Technologies Ltd (TSE:7685) diperdagangkan pada ¥2.547, diskon 49,7% dari nilai wajar yang diestimasi, sementara Kokusai Electric (TSE:6525) diperdagangkan pada ¥2.105,50, diskon 49,5%[11].
- Constellation Brands (STZ): Turun 18,39% year-to-date dengan volatilitas implisit yang tinggi (IVR 83,8), menjadikannya berpotensi menarik untuk strategi berbasis volatilitas karena pasar bereaksi terhadap ketidakpastian ekonomi[12].
Penilaian Risiko untuk 11 April 2025: ⚠️
- Risiko Jangka Pendek (24-48 jam): Volatilitas berlanjut karena pasar mencerna sinyal campuran Trump tentang kebijakan perdagangan. 🔄 Meskipun ada penundaan 90 hari pada beberapa tarif, tarif dasar 10% dan tarif khusus China 125% tetap berlaku, menciptakan ketidakpastian berkelanjutan[4].
- Ancaman yang Muncul: OECD telah merevisi perkiraan pertumbuhan GDP global ke bawah, memprediksi pertumbuhan 3,1% pada 2025 dan 3,0% pada 2026. 📉 Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan akan menurun menjadi 2,2% pada 2025 dan lebih lanjut menjadi 1,6% pada 2026, mencerminkan hambatan terkait perdagangan, inflasi yang meningkat, dan kepercayaan investor yang memudar[1].
Melihat ke Depan untuk 11 April 2025: 🔮
- Acara Ekonomi Kunci: Pernyataan Kebijakan Moneter MAS Singapura (diperkirakan 8-14 April), data GDP Indonesia (diperkirakan 10-14 April), dan data CPI China yang diharapkan hari ini[10].
- Jadwal Earnings: Pasar AS akan ditutup untuk Good Friday pada 18 April, berpotensi mempengaruhi jadwal rilis earnings dan pola perdagangan[13].
- Aksi pasar hari ini kemungkinan akan tetap sangat sensitif terhadap berita terkait perdagangan, dengan fokus khusus pada klarifikasi mengenai implementasi tarif yang tersisa dan potensi negosiasi dengan mitra dagang utama termasuk China. 🔍 Investor harus tetap waspada terhadap perubahan sentimen mendadak yang dapat memicu volatilitas intraday yang signifikan.
Referensi: 📚
- [1] https://asiatimes.com/2025/04/us-china-trade-war-economic-fallout-and-strategic-realignment/
- [2] https://www.cnbc.com/2025/04/08/stock-market-today-live-updates-.html
- [3] https://www.cnn.com/2025/04/10/investing/us-stock-market-dow-tariffs/index.html
- [4] https://www.investopedia.com/dow-jones-today04102025-11712593
- [5] https://finance.yahoo.com/news/why-the-vix-spike-may-be-a-bullish-stock-market-indicator-135902073.html
- [6] https://www.reuters.com/markets/us/futures-plunge-sp-500-eyes-bear-territory-market-rout-worsens-2025-04-07/
- [7] https://markets.businessinsider.com/premarket
- [8] https://www.indonesia-investments.com/news/todays-headlines/consumer-price-index-of-indonesia-the-return-of-inflation-in-march-2025/item9809
- [9] https://www.reuters.com/markets/global-markets-wrapup-1-2025-04-06/
- [10] https://www.sgxacademy.com/eco-cal/
- [11] https://finance.yahoo.com/news/asian-companies-trading-below-estimated-040740040.html
- [12] https://www.tastylive.com/news-insights/these-best-stocks-buy-april-2025
- [13] https://www.nasdaqtrader.com/trader.aspx?id=calendar
Disclaimer ⚠️
Artikel ini bukan merupakan nasihat keuangan. Jika Anda seorang Muslim, Anda harus memeriksa kepatuhan Syariah terlebih dahulu. Karena bantuan AI dalam penulisan artikel ini, data dan analisis dapat menjadi tidak akurat atau salah sama sekali (Anda harus memeriksanya kembali – DYOR/Do Your Own Research).
Tinggalkan komentar