Minggu lalu kita menyaksikan volatilitas pasar yang luar biasa setelah perubahan besar kebijakan perdagangan, menciptakan salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah keuangan terkini. Laporan ini merangkum pergerakan dan perkembangan utama pasar hingga 13 April 2025.
Ringkasan Eksekutif 📋
Pengumuman Tarif Besar-Besaran Memicu Kejatuhan dan Pemulihan Pasar 🎢
Pengumuman Presiden Trump pada 2 April mengenai tarif “timbal balik” yang luas terhadap lebih dari 180 mitra dagang telah memicu penjualan massal di pasar global. S&P 500 anjlok hampir 11% selama dua hari – menjadikannya penurunan terbesar ketiga sejak tahun 2000[1]. Menariknya, pasar kemudian pulih dengan tajam di akhir minggu setelah Trump mengumumkan penundaan 90 hari untuk sebagian besar tarif, meskipun tetap memberlakukan tarif untuk produk China[3][4].
Volatilitas Ekstrem Menandakan Kekhawatiran Resesi 📉
Volatilitas pasar melonjak drastis ke level yang terakhir kali kita lihat di era pandemi. Indeks VIX naik hingga 45,31 (+50,93%) sementara volatilitas jangka pendek (VIX1D) melesat hingga mencapai angka mengejutkan 81,89 (+142,06%)[1]. Lonjakan volatilitas ini bukan hanya sekedar angka—ini mencerminkan ketidakpastian mendalam yang dirasakan pelaku pasar dan meningkatnya kekhawatiran akan resesi. Yang perlu diperhatikan, pergerakan tajam pada suku bunga, komoditas, dan pasar kredit juga konsisten dengan tanda-tanda meningkatnya risiko ekonomi[2].
Fokus Beralih ke Implementasi dan Negosiasi 🤝
Saat kita memasuki minggu mendatang, perhatian pasar akan beralih ke dua hal utama. Pertama, bagaimana implementasi selektif tarif akan diberlakukan, khususnya yang menargetkan China. Kedua, perkembangan potensial dalam negosiasi perdagangan antar negara. Bersamaan dengan itu, laporan pendapatan bank-bank besar yang mulai dirilis pada 11 April akan menjadi barometer penting untuk kesehatan konsumen dan kondisi kredit—faktor yang bisa sangat memengaruhi arah sentimen pasar selanjutnya[2][1].
Ulasan Kinerja Pasar Mingguan 📋
Indeks Ekuitas Global 🌍
Setelah roller coaster emosional sepanjang minggu, pasar AS berhasil bangkit dan menghentikan tren penurunan yang telah berlangsung dua minggu berturut-turut:
- Dow Jones Industrial Average: +5,0% untuk minggu ini
- S&P 500: +5,7%
- Nasdaq Composite: +7,3%[4]
Meski demikian, perlu dicatat bahwa indeks-indeks utama ini masih sekitar 5% lebih rendah dibandingkan posisinya sebelum pengumuman tarif[4]. Sementara itu, pasar Asia terkena dampak yang lebih berat, dengan Nikkei Jepang terjun 8,7% dalam gelombang penjualan awal[1]. Di tanah air, IHSG ditutup melemah 3,82% untuk minggu ini dan berakhir di level 6.262,226[3].
Rotasi Sektor 🔄
Sektor teknologi dan otomotif awalnya menerima tekanan jual terberat setelah berita tarif, dengan perusahaan seperti Apple (-9,2%) dan Nvidia (-7,8%) mengalami penurunan dramatis di awal minggu[1]. Di Indonesia, sebagian besar sektor mengalami penurunan, meskipun sektor infrastruktur (+1,11%) dan industri (+0,97%) menunjukkan ketahanan relatif[3]. Pola ini menunjukkan rotasi defensif dari sektor sensitif perdagangan ke industri yang lebih berorientasi domestik.
Perbandingan Kelas Aset 💼
- Ekuitas 📊: Meskipun ada pemulihan akhir minggu, sebagian besar indeks global berakhir lebih rendah dari level mereka sebelum tarif
- Fixed Income 📜: Obligasi pemerintah menguat secara signifikan karena investor mencari keamanan, dengan yield US Treasury 2-tahun turun 22 basis poin menjadi 3,64%[1]
- Komoditas 🛢️: Kelemahan luas dengan harga minyak WTI turun di bawah $60/barrel, meskipun emas tetap stabil sekitar $3.100 didukung oleh permintaan safe-haven[1]
- Cryptocurrency 🪙: Bitcoin turun di bawah $80.000, menetap di $75.699 (-3,43%), sementara Ethereum (-4,64%) dan XRP (-11,70%) mengalami penurunan lebih tajam[1]
Rekap Makroekonomi & Kebijakan 📊
Rilis data ekonomi minggu ini tertutupi oleh perkembangan kebijakan perdagangan, meskipun pembacaan inflasi tetap penting di tengah kekhawatiran tarif. Indeks Harga Konsumen Indonesia untuk Maret menunjukkan inflasi 1,03% year-on-year[3], sementara pasar menanti data CPI AS untuk Maret sebagai indikator utama tekanan inflasi di tengah volatilitas yang dipicu tarif[5].
Risalah FOMC dari pertemuan Maret, yang dipublikasikan pada 9 April, mendapat perhatian signifikan karena investor mencari wawasan tentang pandangan Fed terhadap risiko inflasi dan potensi pemotongan suku bunga di tengah perubahan keadaan ekonomi yang mendadak[5]. Pidato Ketua Fed Powell pada hari Jumat menunjukkan keengganan untuk campur tangan di pasar hanya berdasarkan penurunan ekuitas atau data ekonomi yang lemah, menunjukkan bahwa hanya krisis pasar kredit yang akan memicu tindakan segera[2].
Pasar obligasi semakin memperhitungkan ekspektasi untuk pemotongan suku bunga Fed yang lebih agresif karena peningkatan risiko resesi, sebagaimana dibuktikan oleh penurunan signifikan dalam yield Treasury di seluruh jatuh tempo yang lebih pendek[1][6].
Analisis Aset Utama 🔍
Mata Uang 💱
Mata uang safe-haven menguat secara signifikan di tengah gejolak pasar, dengan Swiss Franc (CHF) naik 2,91% dan Yen Jepang (JPY) naik 1,43%[6]. USD awalnya melemah sebelum sebagian stabil di akhir minggu, dengan Indeks Dolar (DXY) turun 0,92% menjadi 103,26[6][1].
Rupiah Indonesia menghadapi tekanan substansial, melemah 1,42% menjadi Rp 16.790 per USD, mendekati level terendah rekornya di tengah arus keluar modal yang signifikan[3].
Fixed Income 📜
Kurva yield US Treasury menjadi lebih curam, dengan yield jangka pendek hingga menengah turun tajam (mencerminkan ekspektasi pemotongan suku bunga Fed) sementara yield jangka panjang naik (mencerminkan potensi inflasi dari tarif)[6]. Yield Treasury 2-tahun turun 22 basis poin menjadi 3,64%[1].
Obligasi negara global mencerminkan pencarian keamanan, dengan yield Bund Jerman 10-tahun turun menjadi 2,61% dan yield JGB Jepang 10-tahun turun menjadi 1,12%, mencapai level terendah mereka[6]. Sebaliknya, yield obligasi pemerintah Indonesia 10-tahun naik menjadi 7,039% karena investor asing mengurangi kepemilikan mereka[3].
Komoditas 🛢️
Komoditas secara luas menurun karena kekhawatiran resesi, dengan minyak mentah WTI anjlok di bawah $60/barrel sebelum sedikit stabil[1]. Tembaga mengalami volatilitas signifikan, sempat turun 7% di tengah kekhawatiran ekonomi yang meningkat[1].
Emas terbukti tangguh, diperdagangkan stabil di dekat $3.100 didukung oleh permintaan safe-haven, sementara perak menghadapi penurunan tajam yang menghapus kenaikannya sejak awal tahun[1].
Cryptocurrency 🪙
Pasar cryptocurrency mencerminkan volatilitas aset berisiko yang lebih luas. Bitcoin turun di bawah $80.000 setelah memulai minggu ini sekitar $83.272, menetap di $75.699 (-3,43%)[1]. Ethereum turun menjadi $1.506 (-4,64%), sementara XRP mengalami penurunan lebih tajam sebesar 11,70%[1].
Fokus Pasar Indonesia 🇮🇩
Kinerja IHSG dan Rupiah 📊💰
Pasar Indonesia mengalami volatilitas ekstrem, terutama ketika perdagangan dilanjutkan setelah libur Idul Fitri. Pada 8 April, IHSG anjlok 9,19% menjadi 5.912,06, memicu penghentian perdagangan (trading halt)[7][8]. Untuk minggu yang berakhir 12 April, IHSG ditutup turun 3,82% di 6.262,226[3].
Rupiah Indonesia melemah secara signifikan sebesar 1,42% menjadi Rp 16.790 per USD, mendekati level terendah rekornya[3]. Kinerja ini secara luas sejalan dengan mata uang pasar berkembang lainnya yang terpengaruh oleh pengumuman tarif, terutama yang memiliki eksposur perdagangan AS yang signifikan.
Pendorong Utama dan Arus Modal 💸
Pendorong utama untuk aset Indonesia adalah reaksi global terhadap pengumuman tarif Trump, yang secara khusus mencakup tarif 32% pada barang-barang Indonesia[9]. Setelah pengumuman penundaan 90-hari berikutnya (tidak termasuk China), pasar sebagian pulih[3].
Arus modal menunjukkan tekanan signifikan, dengan investor asing menjual bersih Rp24,04 triliun antara 8-10 April, termasuk Rp10,47 triliun dari SRBI, Rp7,84 triliun dari obligasi pemerintah, dan Rp5,73 triliun dari saham[3]. Pembalikan tajam ini terjadi setelah arus modal masuk singkat sekitar Rp1,9 triliun pada minggu sebelumnya[9].
Snapshot Sentimen & Teknikal 🔍
Evolusi Sentimen Investor 😨😌
Sentimen investor memburuk secara dramatis setelah pengumuman tarif 2 April, dengan VIX melonjak menjadi 45,31 (+50,93%) pada 4 April – level tertingginya sejak awal pandemi COVID[1]. Volatilitas jangka pendek (VIX1D) mencapai angka luar biasa 81,89 (+142,06%), mencerminkan kecemasan pasar yang ekstrem[1].
Sentimen membaik setelah Trump mengumumkan penundaan 90 hari untuk sebagian besar tarif (kecuali China), meskipun ketidakpastian tetap tinggi karena kurangnya kejelasan tentang potensi negosiasi atau implementasi akhir[2][3].
Level Teknikal 📉📈
IHSG turun di bawah beberapa level support selama penurunannya pada 8 April ke 5.912,06, jatuh menembus support yang sebelumnya diidentifikasi di 5.938[9][8]. Pada akhir minggu, level resistance berada di 6.400 dan 6.510, dengan support di 5.949 dan 5.882[3].
Untuk USD/IDR, level resistance diidentifikasi di Rp16.970 dan Rp17.000, dengan support di Rp16.650 dan Rp16.464[3].
Prospek & Acara Kunci untuk Minggu Depan 🔮
Tema Pasar Utama 📌
Pasar akan tetap fokus pada detail implementasi tarif dan tanda-tanda potensi negosiasi antara AS dan mitra dagangnya. Perhatian khusus akan berpusat pada ketegangan AS-China, karena tarif terhadap barang-barang China tidak ditunda[2][3].
Kesehatan pasar kredit akan dipantau dengan ketat, karena tanda-tanda pasar kredit yang macet dapat memicu intervensi Fed, yang menurut Powell akan menjadi katalis utama untuk tindakan daripada hanya penurunan ekuitas[2].
Acara Ekonomi Kunci 📅
- Data AS 🇺🇸: Data sentimen konsumen (11 April) dan laporan kredit konsumen (7 April)[1]
- Data Indonesia 🇮🇩: Data cadangan devisa (Senin), kepercayaan konsumen (Selasa), dan penjualan ritel (Rabu)[3]
- Rilis Global 🌐: Data perdagangan dan inflasi China, pertemuan bank sentral di Selandia Baru dan India[5]
- Pendapatan 💰: Institusi keuangan besar termasuk JPMorgan Chase, Wells Fargo, dan BlackRock (11 April)[1]
Pertimbangan Strategis 🧠
Meskipun kondisi pasar saat ini menunjukkan peningkatan risiko resesi jika tarif diimplementasikan sepenuhnya, sentimen negatif yang ekstrem menciptakan potensi untuk pembalikan pasar yang tajam pada setiap perkembangan perdagangan positif[2]. Seperti yang dicatat oleh seorang analis pasar, “Naik turunnya market [pasar saham Indonesia] karena persepsi para pelaku pasar dalam menilai sentimen yang ada di depan matanya”[3] – menunjukkan bahwa persepsi dan sentimen, bukan fundamental yang mendasari, mungkin mendorong pergerakan pasar jangka pendek.
Investor harus bersiap untuk volatilitas berkelanjutan sambil mengawasi potensi terobosan negosiasi yang dapat secara signifikan meningkatkan sentimen pasar sebelum periode penundaan penuh 90 hari berakhir.
Referensi 📚
- [1] https://www.home.saxo/en-sg/content/articles/macro/weekly-market-recap-and-what-s-ahead—7-april-2025-07042025
- [2] https://www.horizoninvestments.com/weekly-market-recap-04-07-2025/
- [3] https://vibiznews.com/index.php/2025/04/12/volatilitas-pasar-tinggi-mencermati-perkembangan-tariff-domestic-market-outlook-14-17-april-2025/
- [4] https://www.investopedia.com/dow-jones-today-04112025-11713448
- [5] https://www.spglobal.com/marketintelligence/en/mi/research-analysis/week-ahead-economic-preview-week-of-7-april-2025.html
- [6] https://prioritas.bca.co.id/-/media/BCAPRIO/Files/Market-Insight/Weekly-Market/2025/20250408-weekly-market-overview-8-april-2025.pdf
- [7] https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/67759/membaca-arah-ihsg-di-awal-perdagangan-selasa-8-april-2025
- [8] https://www.tempo.co/ekonomi/cara-membaca-ihsg-dengan-sederhana-kapan-tren-naik-dan-turun-1230677
- [9] https://vibiznews.com/index.php/2025/04/05/antisipasi-pasar-setelah-libur-dan-pengumuman-tariff-domestic-market-outlook-8-11-april-2025/
Disclaimer ⚠️
Ulasan ini bukan merupakan saran finansial. Jika Anda seorang Muslim, sebaiknya periksa kesesuaian dengan prinsip Syariah terlebih dahulu. Karena artikel ini ditulis dengan bantuan AI, data dan analisis yang disajikan dapat tidak akurat atau salah. Pembaca diharapkan untuk melakukan penelitian sendiri (DYOR – Do Your Own Research) sebelum mengambil keputusan investasi.
Tinggalkan komentar